Jumat, 01 Juni 2012

MASALAH PSIKOLOGI PADA WANITA DEWASA

BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Dari segi bahasa psikologi berasal dari: Pysche yang diartikan sebagi jiwa dan Logos yang berarti ilmu atau ilmu pengetahuan. Karena itu psikologi sering diartikan dengan ilmu pengetahuan tentang jiwa atau disingkat dengan ilmu jiwa (Bimo, 2001)
Setiap individu (wanita) adalah unik dengan bakat dan potensinya masing-masing. Individu adalah hasil interaksi dari nature dan nurture, menjadi dengan caranya masing-masing. Lingkungan yang bijak akan mendukung kemungkinan seseorang untuk menjadi walau tidak mutlak menjamin.
Wanita memiliki intuisi yang lebih tajam daripada pria. Intuisi adalah kemampuan untuk ikut merasakan segala sesuatu yang tengah dialami oleh orang lain atau merasakan suatu peristiwa di luar dirinya
sebagai hasil dari satu proses yang tidak disadari, dirasakan
sebagai pengalaman sendiri. Ketajaman intuisi ini bergantung pada
ketajaman emosional seseorang yang didasari oleh penghayatan
batiniah, kemampuan mawas diri, dan relasi psikis dengan subjek yang
diminati.
Menurut Prof. Heymans, perbedaan wanita dan pria terletak pada sifat sekundaritas, emosionalitas, dan aktivitas dari fungsi kejiwaan.
Nilai perasaan dari pengalamannya jauh lebih lama mempengaruhi
struktur kepribadiannya. Olah emosi yang kuat menjadikan wanita
lebih tabah, mudah tegang-cemas, berani, dan keras.





BAB II
ISI

A.    Proses Adaptasi Psikologis pada Wanita Dewasa
1.         Adolensensi (± 17-19/21 tahun)
Pada masa adolensi remaja mulai menenemukan nilai-nilai hidup baru, sehingga semakin jelaslah pemahaman tentan keadaan diri sendiri. Ia mulai bersikap kritis terhadap kritis terhadap obyek-obyek di luar dirinya; dan ia mampu mengambil sintese antara dunia luar dan dunia internal. Secara obyektif dan aktif ia melibatkan diri dengan kegiatan dunia luar, sambil mencoba “mendidik” dirinya sendiri. Pada fase perkembangan ini dibangun dasar-dasar yang definitif (esensial, menentukan) bagi pembentukan kepribadiannya.
Pada usia ini yang sangat dibutuhkan oleh remaja ialah: adanya pendidikan dari orang tua yang berkepribadian sederhana serta jujur, yang tidak terlampau banyak menuntut kepada anak didiknya; dan membiarkannya tumbuh serta berkembang sesuai dengan irama perkembangan dan kodratnya sendiri. Yang penting saat ini ialah: membiarkan remaja (anak gadis):
a.    Menghayati pengalaman-pengalaman itu sendiri
b.    Remaja mampu menemukan arti dan nilai-nilai tertentu untuk menetapkan sikap dan tujuan hidup sendiri.
Narsistik pada adolensensi sifatnya seringkali “banyak menuntut”. Narsistik juga anak gadis sangat sensitif terhadap kekecewaan-kekecewaan, dan mudah menggugah harga diri berlebihan yang pada umumnya kurang/tidak tahan terhadap kritik-kritik betapapun kecilnya, khususnya kritik yang dilancarkan oleh orang tua dan saudara-saudaranya.
Disamping itu karena kurang pengalaman, dan remaja terlampau besar menilai penghayatan-penghayatan emosional, maka mudah mengorbankan segala sesautunya untukorang yang dicintai. Sedang pada kenyataannya obyek cinta tersebut tidak amat stabil, dan sangat mudah berganti-ganti. Makas isfat “mudah jatuh cinta” dan “mudah berganti pacar” lebih sering terjadi pada anak gadis dari pada laki-laki. Sehingga keinginan untuk dicintai oleh banyak pemuda dan kecenderungan untuk mematahkan hati banyak laki-laki merupakan ciri karakteristik gadis adolensensi.
Observasi Intensif ke dalam diri sendiri, yang juga menjadi ciri khas pada masa adolensensi pada umumnya lebih kuat dan lebih lama berlangsung pada  anak gadis dari pada anak laki-laki. Oleh karena itu kegiatan untuk selalu sibuk dengan diri sendiri secara intensif itu akan berlangsung terus menerus sepanjang kehidupan wanita. Faktor ini pulalah yang menjadi sebab dan timbulnya dua ciri khas wanita yaitu:
a.       Intuisi yang halus dan tajam
b.      Subjektifitas yang lebih besar dalam memasak dan menilai semua proses hidup.
2.      Dewasa Awal
Dewasa awal adalah masa peralihan dari masa remaja. Masa remaja yang ditandai dengan pencarian identitas diri, pada masa dewasa awal, identitas diri ini didapat sedikit-demi sedikit sesuai dengan umur kronologis dan mental age-nya.
Berbagai masalah juga muncul dengan bertambahnya umur pada masa dewasa awal. Dewasa awal adalah masa peralihan dari ketergantungan ke masa mandiri, baik dari segi ekonomi, kebebasan menentukan diri sendiri, dan pandangan tentang masa depan sudah lebih realistis
Dari segi fisik, masa dewasa awal adalah masa dari puncak perkembangan fisik. Perkembangan fisik sesudah masa ini akan mengalami degradasi sedikit-demi sedikit, mengikuti umur seseorang menjadi lebih tua. Segi emosional, pada masa dewasa awal adalah masa dimana motivasi untuk meraih sesuatu sangat besar yang didukung oleh kekuatan fisik yang prima. Sehingga, ada steriotipe yang mengatakan bahwa masa remaja dan masa dewasa awal adalah masa dimana lebih mengutamakan kekuatan fisik daripada kekuatan rasio dalam menyelesaikan suatu masalah.
Perkembangan sosial masa dewasa awal adalah puncak dari perkembangan sosial masa dewasa. Masa dewasa awal adalah masa beralihnya padangan egosentris menjadi sikap yang empati. Pada masa ini, penentuan relasi sangat memegang peranan penting. 
Menurut Havighurst (dalam Monks, Knoers & Haditono, 2001) tugas perkembangan dewasa awal adalah menikah atau membangun suatu keluarga, mengelola rumah tangga, mendidik atau mengasuh anak, memikul tangung jawab sebagai warga negara, membuat hubungan dengan suatu kelompok sosial tertentu, dan melakukan suatu pekerjaan. Dewasa awal merupakan masa permulaan dimana seseorang mulai menjalin hubungan secara intim dengan lawan jenisnya.
Hurlock (1993) dalam hal ini telah mengemukakan beberapa karakteristik dewasa awal dan pada salah satu intinya dikatakan bahwa dewasa awal merupakan suatu masa penyesuaian diri dengan cara hidup baru dan memanfaatkan kebebasan yang diperolehnya.
Hasil Penelitian Psikologi Dewasa Awal
Hasil penelitian dewasa awal lebih banyak mengarah pada hubungan sosial, dan perkembangan intelektual, pekerjaan dan perkawinan di usia dewasa awal, dan pengoptimalan perkembangan dewasa awal serta perilaku penghayatan keagamaan. Beberapa hasil penelitian, diantaranya:

a.         Persepsi seks maya pada dewasa awal
Hasil penelitian menunjukkan bahwa baik pria maupun wanita memiliki sikap yang negatif terhadap seks maya. Hal tersebut dipengaruhi oleh faktor kebudayaan Indonesia yang masih memegang teguh adat dan istiadat budaya timur, dimana manusia harus memperhatikan aturan dan nilai budaya di dalam bersikap dan berperilaku. Menurut Ida Ayu dari Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma) pada jurnal  “Perbedaan Sikap Terhadap Perilaku Seks Maya Berdasarkan Jenis Kelamin pada Dewasa Awal” Fakultas Psikologi, Universitas Gunadarma)  kebudayaan yang berkembang dimana seseorang hidup dan dibesarkan mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan sikap, tanpa disadari kebudayaan telah menanamkan pengaruh yang kuat dalam sikap seseorang terhadap berbagai macam hal.

b.      Penundaan usia perkawinan dengan Intensi Penundaan Usia Perkwaninan
Dari jurnal Hubungan Sikap Terhadap Penundaan Perkawinan Dengan Intensi Penundaan Usia Perkawinan” oleh  Elok Halimatus Sa`diyah, dosen Fakultas Psikologi UIN Malang didapatkan hubungan yang positif dan sangat signifikan antara sikap terhadap penundaan usia perkawinan dengan intensi penundaan usia. Hal ini berarti mereka memiliki keyakinan yang tinggi bahwa penundaan usia perkawinan akan memberikan keuntungan bagi mereka, baik keuntungan dari segi biologis, psikologis, sosial dan ekonomi. Penundaan perkawinan akan memberikan waktu lebih banyak bagi mereka untuk membentuk identitas pribadi sebagai individu yang matang secara biologis, psikologis, sosial dan ekonomi.

c.       Kesiapan Menikah pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja
Dalam jurnal ”Kesiapan Menikah pada Wanita Dewasa Awal yang Bekerja” oleh Ika Sari Dewi pada tahun 2006, adanya ketakutan menghadapi krisis pernikahan dan berujung perceraian merupakan hal atau kondisi yang membuat wanita bekerja ragu tentang kesiapan menikah mereka. Ditambah lagi maraknya perceraian yang dipublikasikan di media massa saat ini sehingga dianggap menjadi menjadi fenomena biasa. Salah satu penyebab wanita yang bekerja memutuskan untuk menunda pernikahan adalah keraguan dapat berbagi secara mental dan emosional dengan pasangannya. Ketidaksiapan menikah yang dimiliki wanita bekerja termanifestasi dengan adanya ketakutan menghadapi krisis perkawinan serta ragu tentang kemampuan mereka berbagi secar mosional dengan pasangannya kelak. Selain kesiapan psikis juga ketidak siapan fisik. Individu yang merasa memiliki kondisi kesehatan yang tidak prima (sakit, misal Diabetes Militus) cenderung ragu melangkah menuju jenjang pernikahan.

Untuk mengetahui apakah seseorang siap menikah atau tidak, ada beberapa kriteria yang perlu diperhatikan:
1)        Memiliki kemampuan mengendalikan perasaan diri sendiri.
2)        Memiliki kemampuan untuk berhubungan baik dengan orang banyak.
3)        Bersedia dan mampu menjadi pasangan menjadi pasangan dalam hubungan seksual.
4)        Bersedia untuk membina hubungan seksual yang intim.
5)        Memiliki kelembutan dan kasih saying kepada orang lain.
6)        Sensitif terhadap kebutuhan dan perkembangan orang lain.
7)        Dapat berkomunikasi secara bebas mengenai pemikiran, perasaan dan harapan.
8)        Bersedia berbagi rencana dengan orang lain.
9)        Bersedia menerima keterbatasan orang lain.
10)    Memiliki kapasitas yang baik dalam menghadapi masalah-masalah yang berhubungan dengan ekonomi.
11)    Bersedia menjadi suami isteri yang bertanggung jawab.

Individu yang memiliki kematangan emosi akan memiliki kesiapan menikah yang lebih baik, artinya mereka mampu mengatasi perubahan-perubahan dan beradaptasi setelah memasuki pernikahan.

d.      Kemandirian Dewasa Awal
Adapun dalam jurnal yang berjudul “Kemandirian Mahasiswi UIN Suska Ditinjau dari Kesadaran Gender Oleh Hirmaningsih, S.Psi.  ini, membuktikan bahwa bahwa perbedaan perlakuan yang diterima anak laki-laki dan perempuan sejak lahir akan mempengaruhi tingkat kemandirian. Semakin tinggi kesadaran gender maka semakin tinggi kemandirian manusia tersebut. Dengan makin tingginya kesadaran gender yang dimiliki seorang pria tentang konsep mandiri dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki kesadaran gender atau memiliki kesadaran gender yang rendah. Wanita yang memiliki kemandirian tinggi akan lebih mudah menghadapi kehidupan, tantangan yang dihadapinya, serta menjalin hubungan yang mantap dalam kehidupan sosialnya.

B.       Gangguan Psikologis
1.      Gangguan Psikologis pada Masa Reproduksi (Menstruasi)
Menurut Kartini (1995), peristiwa paling penting pada masa pubertas anak gadis adalah gejala menstruasi atau haid, yang menjadi pertanda biologis dari kematangan seksual. Timbullah kini bermacam-macam peristiwa, yaitu: reaksi hormonal, reaksi biologis dan reaksi psikis; proses-proses somatis (jasmaniah lawan rokhaniah) atau psikis yang berlangsung secara siklis, dan terjadi pengulangan secara periodik peristiwa menstruasi. Semua ini bisa berproses dalam suasana hati yang normal pada anak gadis. Tetapi kadang kala juga bisa berjalan tidak lancar atau tidak normal (oleh banyak hambatan), dan bisa menimbulkan macam-macam masalh psikosomatis (penyimpangan-penyimangan dan gangguan psikis yang menimbulkan gangguan pada kesehatan jasmaniah).
Fase tibanya haid ini merupakan satu periode dimana benar-benar telah siap secara biologis menjalani fungsi kewanitaan. Maka pada saat adolensensi, peristiwa haid menduduki satu eksistensi psikologis yang unik yang bisa mempengaruhi sekali cara mereaksinya anak gadis terhadap realitas hidup, baik pada masa adolensensi maupun saat ia menjadi dewasa. Semua rahasia yang menyelubungi ibunya dan bersangkutan dengan masalah haid dimasa masa lalu, kini benar-benar menjadi satu realitas bagi dirinya sendiri. Dan diterimanya masa kematangan seksual dini dengan rasa senang dan bangga, sebab dia sudah “dewasa” secara biologis.
Namun semakin muda usia si gadis, dan semakin ia belum siap menerima peristiwa haid, akan semakin terasa: “kejam mengancam” pengalaman menstruasi tersebut. Yaitu terasa pahit menyebalkan sebagai gangguan, atau sebagai reaksi kejutan (shock reaction) dalam anggapan dan fantasi anak gadis.
Dari perasaan negatif tersebut, mungkin akan timbul pula perasaan sangat lemah karena merasa kehilangan banyak darah, atau merasa sakit-sakitan, sehingga tidak berani keluar dari rumah. Semua ini mula-mula produk dari gambaran khayal, yang kemudian dikembangkan menjadi satu mekanisme otosugestif. Untuk selanjutnya, saat-saat menstruasi tersebut senantiasa dipakai sebagai alasan agar ia dibebaskan dari tugas-tugas tertentu, atau dipakai untuk menhindari kewajiban-kewajiban tertentu.
2.      Gangguan Psikologis pada Masa Perkawinan
a.         Pola baru dalam tingkah laku seksual antara lain:
1)      Term marriage
Term marriage atau perkawinan periodik yaitu dengan merencanakan suatu tahap kontrak pertama selama 3-5 tahun sedang tahap kedua ditempuh dalam jangka 10 tahun. Perpanjangan kontrak bisa dilakukan untuk mencapai tahap ketiga yang memberikan hak kepada kedua partner untuk saling memiliki secara permanen.
2)      Trial marriage
Trial marriage atau kawin percobaan dengan ide melandaskan argumentasinya pada pertimbangan sebagai berikut: jangan hendaknya dua orang saling melibatkan diri dalam satu relasi sangat intim dan kompleks dalam bentuk ikatan perkawinan itu tidak mencobanya terlebih dahulu, selama satu periode tertentu umpamanya saja selama beberapa bulan atau beberapa tahun. Jika dalam periode yang ditentukan kedua belah pihak saling bersesuaian, barulah dilaksanakan ikatan perkawinan yang permanen.
3)      Companionate marriage
Companionate marriage, pola perkawinan ini menganjurkan dilaksanakan perkawinan tanpa anak, dengan melegalisasi keluarga berencana atau pengendalian kelahiran juga melegalisasi perceraian atas dasar persetujuan bersama.
b.      Kesulitan-kesulitan dalam penyesuaian perkawinan antara lain:
1)      Persiapan yang terbatas untuk perkawinan
Walaupun dalam kenyataan sekarang, penyesuaian seksual lebih mudah ketimbang pada masa lalu, karena banyak informasi tentang seks yang tersedia baik di rumah, di sekolah, di universitas, serta tempat-tempat yang lain. Kebanyakan pasangan suami istri hanya menerima sedikit persiapan dibidang ketrampilan domestik, mengasuk anak, dan manajemen umum.
2)      Peran dalam perkawinan
Kecenderungan terhadap perubahan peran dalam perkawinan bagi pria dan wanita, dan konsep yang berbeda tentang peran ini yang dianut kelas sosial dan sekelompok religius yang berbeda membuat penyesuaian dalam perkawinan semakin sulit sekarang daripada dimasa lalu ketika peran masih begitu ketat dianut.
3)      Kawin muda
Perkawinan dan kedudukan sebagai orang muda menyelesaikan pendidikan mereka dan secara ekonomis independent membuat mereka tidak mempunyai kesempatan untuk mempunyai pengalaman yang dipunyai oleh teman-teman yang tidak kawin atau orang-orang yang telah mandiri sebelum kawin. Hal ini mengakibatkan sikap iri ahti dan menjadi halangan penyesuaian perkawinan.
4)      Konsep yang tidak realistis dalam perkawinan
Orang dewasa ang bekerja di sekolah dan perguruan tinggi, dengan sedikit / tanpa pengalaman kerja, cenderung mempunyai konsep yang tidak realistis tentang makna perkawinan berkenaan dengan pekerjaan, deprivasi, pembelanjaan uang atau perubahan dalam pola hidup. Pendekatan yang tidak realistis ini menuju ke arah kesulitan penyesuaian yang serius yang sering diakhiri dengan perceraian.
5)      Perkawinan campur
Penyesuaian terhadap kedudukan sebagai orang tua dan dengan para saudara dari pihak istri dab sebaliknya jauh lebih sulit dalam perkawinan antar agama dari pada bila keduanya berasala dari latar belakang budaya yang sama.
6)      Pacaran yang dipersingkat
Periode atau masa pacaran lebih singkat sekarang ketimbang masa dulu, dan karena itu pasangan hanya punya sedikit waktu untuk memecahkan banyak masalah tentang penyesuaian sebelum mereka melangsungkan perkawinan.
7)      Konsep perkawinan yang romantis
Banyak orang dewasa yang mempunyai konsep perkawinan yang romantis yang berkembang pada masa remaja. Harapan yang berlebihan tentang tujuan dan hasil perkawinan sering membawa kekecewaan yang menambah kesulitan penyesuaian terhadap tugas dan tanggung jawab perkawinan.
8)      Kurangnya identitas
Apabila seseorang merasa bahwa keluarga, teman dan rekannya memperlakukannya sebagai “suami Jane” atau apabila wanita merasa bahwa kelompok sosial menganggap dirinya hanya sebagai “ibu rumah tangga”, walaupun ia seorang wanita karir yang berhasil, ia bisa saja kehilangan identitas diri sebagai individu yang sangat dijunjung dan dinilai tinggi sebelum perkawinan.
3.      Gangguan Psikologi pada Masa Reproduksi (Kehamilan)
a.      Hamil yang tidak dikehendaki/diharapkan
1)      Kalangan remaja
Kehamilan yang tidak direncanakan sebelumnya bisa merampas “kenikmatan” masa remaja yang seharusnya dinikmati oleh setiap remaja lelaki maupun perempuan. Walaupun kehamilan itu sendiri dirasakan langsung oleh perempuan, tetapi remaja pria juga akan merasakan dampaknya karena harus bertanggung jawab. Ada dua hal yang bisa dilakukan remaja jika mengalami KTD:
a)      Mempertahankan Kehamilan
Bila kehamilan dipertahankan resiko psikis yang timbul yaitu ada kemungkinan pihak perempuan menjadi ibu tunggal karena pasangan tidak mau menikahinya atau tidak mau bertanggung jawab. Kalau mereka menikah,hal ini juga bisa mengakibatkan perkawinan bermasalah yang penuh konflik karena sama-sama belum dewasa dan siap memikul tanggung jawab sebagai orang tua.
b)      Mengakhiri kehamilan (aborsi)
Bila kehamilan diakhiri dengan (aborsi) bisa mengakibatkan dampak negatif. Secara psikis pelaku aborsi seringkali mengalami perasaan-perasaan takut, panik, tertekan atau stress, terutama mengingat proses aborsi dan kesakitan, kecemasan karena rasa bersalah atau dosa akibat aborsi.
2)      Wanita dewasa/ Ibu yang sudah menikah
Seorang ibu yang tidak menghendaki kehadiran anak disebabkan karena mereka merasa akan mengganggu karirnya, karena membuatnya terikat atau karena ia sudah terlampau sibuk merawat anak-anak yang lain. Selain itu mereka merasa tak dapat membagi waktu antara kesibukan pekerjaan dengan merawat anak. Penyebab terjadinya KDT pada wanita / ibu yang telah menikah antara lain karena kegagalan alat kontrasepsi yang dipakai.
b.      Hamil dengan janin mati
Ibu dari bayi yang meninggal pada periode perinatal mengalami penderitaan. Selama kehamilan mereka telah memulai untuk mengenali dan merasa dekat dengan janinnya. Ibu yang mengalami proses kehilangan/kematian janin dalam kandungan akan merasa kehilangan. Pada proses berduka ibu memperlihatkan perilaku yang khas dan merasakan emosional tertentu. Hal ini dikelompokan ke dalam berbagai tahapan, meliputi:
1)      Syok dan menyangkal
2)      Marah dan bargaining
3)      Disorientasi dan depresi
4)      Reorganisasi dan penerimaan
c.       Hamil dengan ketergantungan obat
Pemakaian obat-obatan oleh wanita hamil dapat menyebabkan masalah baik pada ibu maupun janinnya. Janin akan mengalami cacat fisik, dan emosional. Wanita hamil dengan ketergantungan obat umumnya takut melahirkan bayi cacat dan mencoba sebisa mungkin untuk menghindari zat-zat berbahaya yang mungkin membahayakan perkembangan bayinya. Banyak kebingungan dan kegelisahan tentang apa yang menyebabkan bayi cacat karena pengaruh obat-obatan. Kalau terjadi keguguran dan ketidaknormalan pada bayi ibu merasa takut berlebihan, panik, gelisah dan sebagainya.
d.      Kemandulan
Pengalaman membuktikan bahwa ketakutan serta kecemasan yang berkaitan dengan fungsi reproduksi akan menimbulkan dampak yang merintangi tercapainya orgasme pada coitus. Pendapat yang keliru tentang reproduksi akan diinternalisasikan (dicernakan dalam pribadinya) oleh wanita yang bersangkutan dan lambat laun akan menjadi pengaruh psikis. Pengaruh psikisnya adalah:
1)      Ketakutan-ketakutan yang tidak disadari (dibawah alam sadar)
2)      Ketakutan yang bersifat inflantile (kekanak-kanakan)
e.       Hamil diluar nikah
Kehamilan diluar nikah biasanya diakibatkan oleh pergaulan bebas yang diakibatkan oleh didikan keluarga berupa:
1)      Kurangnya kasih sayang yang diberikan oleh keluarga terhadap anak perempuannya akibat orang tua sibuk kerja, perceraian dan broken home.
2)      Keluarga yang terlalu disiplin sehingga anak tersebut memberontak untuk menunjukan kedewasaannya.
Reaksi wanita yang hamil diluar nikah dapat terjadi:
1)      Melarikan dari tanggung jawab, melakukan abortus, membuang anaknya, menitipkan ke orang lain atau panti asuhan.
2)      Berusaha melakukan aborsi dan bunuh duri.
3)      Melakukan pekerjaan menjadi seorang ibu walau dengan keterpaksaan atau sukarela dan akhirnya dapat menerima anaknya.
f.       Pseudosiesis
Pseudosiesis adalah kehamilan imaginer atau palsu. Gejala kehamilan palsu ini secara psikis lebih berat gangguannya daripada peristiwa abortus.
Pada kehamilan Pseudosiesis secara psikologis ada sikap yang ambivalen terhadap kehamilannya yaitu ingin sekali menjadi hamil, sekaligus dibarengi ketakutan untuk mereakisir keinginan punya anak, sehingga terjadi proses inhibisi.
g.      Keguguran
Reaksi wanita terhadap keguguran kandungannya itu sangat tergantung pada konstitusi psikisnya sendiri. Maka tak bisa dipungkiri, bahwa janin atau bayi yang dikandungnya itu dirasakan sebagai bagian dari jasmani dan rohaninya sendiri. Dan berkepentingan terhadap ego wanita yang mengandung embrio tersebut.
1)      Faktor penyebab terletak pada psikis dan jiwa
2)      Wanita hamil yang bersangkutan, mencari bantuan pada faktor tersebut, melakukan abortus secara tidak sadar. Semua peristiwa berlangsung di luar kemauan sendiri, didorong oleh harapan yang tidak disadari.
4.      Gangguan Psikologi pada Persalinan
Pada saat menjelang proses persalinan seorang wanita akan mengalami perasaan yang bercampur baur. Perasaan bahagia penuh harapan diselingi gelisah, takut dan ngeri pada proses persalinan. Ada perasaan kuat dan berani mengambil resiko tapi disisi lain juga merasa lemah dan pasrah. Ada keyakinan kuat akan melampaui semuanya dengan baik tetapi juga ada keraguan. Semua itu akan semakin dirasakan mendekati kelahiran bayinya. Hal-hal yang menyebabkan seorang wanita gelisah dan takut menghadapi proses persalinan diantaranya:
a.       Trauma
b.      Ada perasaan takut mati
c.       Rasa bersalah
d.      Takut bayi mendapat kelainan misal cacat bawaan
e.       Takut kehilangan bayi yang sudah ada di kandungannya berbulan-bulan.
Untuk mengurangi kegelisahan dan ketakutan diperlukan dukungan mental dari lingkungan baik dari tenaga kesehatan atau dari keluarga dan suami.oleh sebab itu banyak wanita merasa lebih trengang ketika ada keluarga yang mendampingi terutama suami atau ibunya (nenek si bayi). Peran pendamping akan sangat penting bagi kondisi psikis wanita. Pendamping persalinan akan sangat mendukung mental ibu sehingga dapat membantu tenaga kesehatan saat bp;roses persalinan. Tugas tenaga kesehatan dalam hal dukungan psikis dapat digantikan oleh suami atau keluarga lain sehingga tenaga kesehatan tinggal mengarahkan saja apa yang harus dilakukan.
5.      Gangguan Psikologis Masa Nifas
Gangguan yang sering terjadi pada masa nifas dapat berupa gangguan psikologis seperti post partum blues, post partum syndrome (PPS), depresi post partum dan post partum psikosis.
a.       Baby Blue (Post Partum Blues)
Merupakan kesedihan atau kemurungan setelah melahirkan. Biasanya hanya muncul sementara waktu yakni sekitar dua hari hingga dua minggu sejak kelahiran bayi yang ditandai dengan gejala-gejala sebagai berikut:
1)      Cemas tanpa sebab
2)      Menangis tanpa sebab
3)      Tidak sabar
4)      Tidak percaya diri
5)      Sensitif
6)      Mudah tersinggung
7)      Merasa kurang menyayangi bayinya
Cara mengatasi:
1)      Dengan cara pendekatan komunikasi teraupetik
2)      Dengan cara peningkatan support mental/dukungan keluarga
b.      Kebutuhan Wanita dalam Nifas
1)      Dukungan
a)      Untuk masalah yang sudah nyata dan mencurigai
b)      Emosional tugas-tugas dirumah agar ibu lebih banyak waktu mengasuh bayinya
2)      Informasi yang dibutuhkan adalah:
Pengasuk anak dan pemberian ASI, juga perubahan fisik, tanda infeksi, asuhan bagi diri sendiri, penyembuhan, kehidupan seksual, kontrasepsi, dan gizi.
3)      Mengatasi rasa takut
Mengatasi rasa ketidakmampuan serta rasa kehilangan hubungan yang erat dengan suaminya tanggung jawab yang terus menerus untuk mengasuh bayinya.



BAB III
PENUTUP
A.    KESIMPULAN
Masa dewasa adalah masa yang sangat panjang (20 – 40 tahun), dimana sumber potensi dan kemampuan bertumpu pada usia ini. Masa ini adalah peralihan dari masa remaja yang masih dalam ketergantungan menuju masa dewasa, yang menuntut kemandirian dan diujung fase ini adalah fase dewasa akhir, dimana kemampuan sedikit demi sedikit akan berkurang. Sehingga masa dewasa awal adalah masa yang paling penting dalam hidup seseorang dalam masa penitian karir/pekerjaan/sumber penghasilan yang tetap.
Masa ini juga adalah masa dimana kematangan emosi memegang peranan penting. Seseorang yang ada pada masa ini, harus bisa menempatkan dirinya pada situasi yang berbeda; problem rumah tangga, masalah pekerjaan, pengasuhan anak, hidup berkeluarga, menjadi warga masyarakat, pemimpin, suami/istri membutuhkan kestabilan emosi yang baik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar